Langsung ke konten utama

Review Buku Internasional

 

REVIEW BUKU INTERNASIONAL

 

REVIEW INI DIBUAT UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH

STUDI EVALUASI KEBIJAKAN PUBLIK

DOSEN PENGAMPU: DR. R. SALLY MARISA SIHOMBING, S.IP., M.SI

 

 



 

 

 

Disusun Oleh:

 

MUHAMMAD FARI NAUFAL (180903059)

 

 

 

 

 

 

DEPARTEMEN ILMU ADMINISTRASI PUBLIK

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

2021


KATA PENGANTAR

 

            Puji dan syukur saya ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan rahmatnya saya dapat menyelesaikan tugas Studi Evaluasi Kebijakan Publik ini. Saya juga mengucapkan terima kasih kepada Ibu Dr. R. Sally Marisa Sihombing, S.IP, M.Si selaku dosen pengampu yang telah memberi pengajaran dan pembelajaran mengenai materi ini.

                Saya menyadari bahwa tugas yang sudah dibuat ini masih jauh dari kata sempurna dan masih banyak kekurangan di dalamnya. Namun, saya berharap tugas ini dapat memberikan manfaat kepada banyak orang terutama mahasiswa mengenai Studi Evaluasi Kebijakan Publik. Maka dari itu, apabila terdapat kesalahan dalam penulisan tugas review buku ini, saya mohon maaf. Terima kasih.

 

 

 

 

Medan,      Desember  2021

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

 

 

KATA PENGANTAR       …………………………………………………………………..                  i

DAFTAR ISI       …………………………………………………………………………….                     ii

BAB I COMPARE             …………………………………………………………………..                  1

1.1   Kesamaan yang Dilihat dari Buku Internasional       ……………………..                 1

BAB II CONTRAST          …………………………………………………………………..                  4

2.1 Ketidaksamaan yang dilihat dari Buku Internasional             ………….                                4

BAB III CRITIZE              …………………………………………………………………                    7

3.1 Pandangan terhadap Buku Internasional     ………………………………..                  7

BAB IV SYHNTESIZE     …………………………………………………………………..                  10

4.1 Membandingkan Mengenai Buku Internasional        …………..…………                 10

BAB V SUMMARIZE       ………………………………………………………………….                   14

5.1 Meringkas Mengenai Buku Internasional     ………………………………..                  14

DAFTAR PUSTAKA        …………………………………………………………………...                 17


BAB I

COMPARE

 

 

                Pada bab ini, reviewer akan melihat kesamaan dari ketiga buku internasional yang akan dibahas. Jika kita lihat secara sekilas, bahwasanya ketiga buku internasional mempunyai bahasan yang sama, dimana bahasan berfokus pada proses evaluasi kebijakan publik. Bukan hanya itu saja, bahasan juga mencakup begaimana pentingnya evaluasi kebijakan publik dalam penguatan kinerja organisasi dan pencapaian keberhasilan akan kesejahteraan masyarakat karena sejatinya kebijakan publik dibuat bertujuan untuk memberikan solusi atas permasalahan yang ada di lingkungan masyarakat demi kesejahteraan bersama. Di buku internasional pertama yang mempunyai judul “Handbook of Practical Program Evalution: Third Edition” by Joseph S. Wholey, Harry P. Hatry, dan Kathryn E. Newcomer, memperlihatkan bahasan mengenai praktik dari evaluasi kebijakan maupun program. Dimana dalam buku tersebut menjelaskan topik dimulai dari perencanaan hingga implementasi evaluasi program. Bahasan juga melihat bagaimana berbagau teknik dan strategi merencanakan dan merancang pekerjaan evaluasi yang kredibel dan bermanfaat. Penulis bab memberikan panduan yang relevan untuk melibatkan pemangku kepentingan, merancang studi evaluasi termasuk evaluasi dampak, dan merancang sistem pemantauan yang sedang berlangsung. Bab-bab tersebut mencakup topik-topik berikut:

a.       Perencanaan dan desain evaluasi 

b.        Melibatkan pemangku kepentingan

c.        Pemodelan logika 

d.       Penilaian evaluasi dan pendekatan evaluasi eksplorasi lainnya

e.       Pemantauan kinerja 

f.        Desain kelompok perbandingan 

g.       Uji coba terkontrol secara acak 

h.        Studi kasus 

i.         Rekrutmen dan retensi peserta studi evaluasi

j.         Multilokasi evaluasi

Desain evaluasi melibatkan penyeimbangan biaya evaluasi dengan kemungkinan kegunaan hasil evaluasi. Secara umum, semakin tinggi tingkat presisi, kehandalan, dan generalisasi evaluasi, semakin tinggi biaya evaluasi dari segi waktu (waktu kalender dan waktu manajer, staf, klien, dan lain-lain dipengaruhi oleh proses evaluasi); biaya keuangan; dan biaya politik dan birokrasi seperti gangguan yang dirasakan dan hilangnya niat baik di antara mereka yang terkena dampak. Nilai suatu evaluasi diukur dari kekuatan bukti yang dihasilkan; dalam kredibilitas evaluasi untuk pembuat kebijakan, manajer, dan pengguna lain yang dituju; dan khususnya dalam penggunaan informasi evaluasi untuk memperbaiki kebijakan dan program. Menyesuaikan keputusan desain dengan waktu dan sumber daya yang tersedia adalah seni, yang didukung oleh ilmu-ilmu sosial. 

Berlanjut pada buku kedua yang mempunyai judul “Handbook of Public Policy Evaluation” by Stuart S. Nagel, dalam buku kedua ini mempunyai persamaan dengan buku pertama dimana bahasan mempunyai fokus mengenai praktikal dari evaluasi kebijakan publik yang dikemas dalam bahasan dasar dimulai dengan perencanaan hingga pada implementasi. Evaluasi kebijakan publik melibatkan penentuan di antara cara-cara alternatif untuk menyelesaikan kontroversi  mengenai apa yang harus dilakukan untuk menangani masalah ekonomi, teknologi, sosial, politik, internasional, dan hukum di tingkat sosial. Evaluasi sistematis melibatkan pemrosesan:

a.       Tujuan yang akan dicapai

b.       Alternatif yang tersedia untuk mencapainya

c.       Hubungan antara tujuan dan alternatif untuk memutuskan alternatif terbaik, kombinasi terbaik dari alternatif, atau alternatif yang terbaik. alokasi terbaik di antara alternatif.

Evaluasi menang-menang melibatkan pemilihan alternatif kebijakan yang dapat memungkinkan konservatif, liberal, dan kelompok besar lainnya untuk secara bersamaan mencapai hasil yang lebih baik daripada harapan awal terbaik mereka. Dalam buku ini membagi menjadi tiga komponen utama, yaitu:

1.       Komponen pertama adalah gagasan dasar, yang meliputi (a) metode win-win, (b) win-win example, (c) bidang kajian kebijakan publik, (d) profesionalisme kebijakan, dan (e) perspektif pembuat kebijakan.

2.       Komponen kedua adalah gagasan mutakhir, meliputi (a) konsep dasar, (b) metode dan profesionalisme, (c) tren evaluasi kebijakan, (d) substansi evaluasi kebijakan, (e) teori win-win, dan (f) winwin aplikasi.

3.       Komponen ketiga terdiri dari bibliografi evaluasi kebijakan yang sangat berguna untuk tujuan referensi. Ini mencakup (a) evaluasi kebijakan secara umum; (b) bukubuku yang diterbitkan oleh Organisasi atau Studi Kebijakan; (c) buku-buku yang berhubungan dengan alternatif penyelesaian sengketa dan solusi super optimal; (d) profesionalisme dalam evaluasi kebijakan; (e) kebijakan publik dan disiplin lainnya; dan (f) referensi terkait daerah berkembang, teori kebijakan, dan kebijakan hukum.

Lalu buku ketiga yang mempunyai judul “Improving Public Services: International Experiences in Using Evaluation Tools to Measure Program Performance” by Douglas J. Besharov, Karen J. Baehler, dan Jacob Alex Klerman. Sama dengan buku pertama dan buku kedua, buku ketiga mempunyai fokus bahasan mengenai prakttikal evaluasi dalam evaluasi program secara internasional, dan jika ditelisik lebih lagi bahwa bahasan buku ketiga juga melihat bagaiaman evaluasi mempunyai posisi penting dalam mengukur kinerja suatu program untuk peningkatan kinerja program demi perwujudan keberhasilan tujuan yang telah direncanakan sebelumnya. Beberapa program pemerintah mungkin “berhasil” seperti yang diklaim oleh para pendukungnya. Tetapi banyak yang lain tidak, dan beberapa tampaknya tidak dapat mencapai tujuan yang paling dasar mereka (Baron 2009; Giloth dan Austin 2010; Prewitt, Schwandt, dan Straf 2012, 2).  Sebuah program mungkin tidak efektif karena tidak dipahami dengan baik dan oleh karena itu perlu diorientasikan ulang (atau bahkan dihentikan) tetapi kesalahannya juga dapat berupa implementasi yang tidak memadai, termasuk sumber daya yang tidak mencukupi, pegawai yang tidak sesuai, atau manajemen yang lemah.  Salah satu pilihan, tentu saja, adalah untuk menghentikan program yang tampaknya tidak berhasil, dan memulai dari awal. Namun, melakukan hal itu biasanya sulit secara politis. Lebih penting lagi, banyak program, meskipun tampaknya tidak efektif, berupaya mengatasi masalah sosial yang serius dan, dengan sedikit penyesuaian, mungkin dapat membantu banyak orang. Oleh karena itu, dalam banyak kasus, strategi yang lebih disukai adalah memperbaiki program yang lemah, daripada mengabaikannya (Besharov 2009). Manajemen kinerja adalah alat penting dalam upaya untuk meminta pertanggungjawaban administrator atas operasi program dan meningkatkan efektivitas program. Kata-kata buzz terkenal: "manajemen berbasis kinerja," "manajemen berorientasi hasil," "manajemen kualitas total," "peningkatan produk berkelanjutan," "pemerintah yang digerakkan oleh hasil," "mengatur hasil," dan sebagainya. (Deming 1986). Upaya tersebut sangat penting di masa-masa sulit ini, ketika pemerintah diminta untuk melakukan begitu banyak dengan sumber daya yang sering menyusut.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

CONTRAST

 

 

                Pada bab ini, reviewer akan melihat ketidaksamaan dari ketiga buku internasional yang akan dibahas. Pada bab sebelumnya kita sudah membahas bagaimana kesamaan dari ketiga buku internasional, walaupun mempunyai bahasan yang sama tetapi ketiga buku internasional ini juga mempunyai ketidaksamaan dalam fokus dan tema bahasannya. Di buku internasional pertama yang mempunyai judul “Handbook of Practical Program Evalution: Third Edition” by Joseph S. Wholey, Harry P. Hatry, dan Kathryn E. Newcomer, melihat fokus bahasan lebih pada praktikal evaluasi program, bahasan yang melihat berbagai macam  konsep desain yang berbeda dari bahasan buku internasional lain yang sedang kita bahas. Desain evaluasi mengidentifikasi pertanyaan apa yang akan dijawab oleh evaluasi, data apa yang akan dikumpulkan, bagaimana data akan dianalisis untuk menjawab pertanyaan, dan bagaimana informasi yang dihasilkan akan digunakan. Setiap desain menerangi aspek penting dari realitas. Pemodelan logika adalah strategi yang berguna untuk mengidentifikasi komponen dan hasil program, serta faktor kontekstual penting yang mempengaruhi operasi dan hasil program. Penilaian evaluabilitas mengeksplorasi kebutuhan informasi dari pembuat kebijakan, manajer, dan pemangku kepentingan utama lainnya; kelayakan dan biaya untuk menjawab pertanyaan evaluasi alternatif; dan kemungkinan penggunaan temuan evaluasi — misalnya, untuk meningkatkan kinerja program atau untuk mengkomunikasikan nilai kegiatan program kepada pembuat kebijakan atau pemangku kepentingan utama lainnya. Sistem pemantauan kinerja dan studi kasus deskriptif menjawab pertanyaan yang meminta deskripsi: Apa yang terjadi? Desain kelompok perbandingan, eksperimen acak, dan studi kasus penjelas menjawab pertanyaan yang meminta penjelasan: Mengapa hasil ini terjadi? Apa perbedaan dari program tersebut? Banyak evaluasi menggunakan kombinasi pendekatan ini untuk menjawab pertanyaan tentang kinerja program. Selain itu, bahasan juga melihat bagaimana mencocokkan pendekatan evaluasi dengan kebutuhan informasi, mengidentifikasi elemen kontekstual kunci yang membentuk penggunaan evaluasi, menghasilkan ketelitian metodologis yang diperlukan untuk mendukung temuan yang kredibel, dan merancang evaluasi rensponsif dan berguna. Menutut data sistematis tentang kinerja publik dan non-profit program terus meningkat di seluruh dunia, Dimana pasokan data tersebut jarang sesuai dengan tingkat permintaan pemohon. Keanekaragaman jenis penyedia data terkait juga terus meningkat.

                Kemudian pada buku kedua yang mempunyai judul “Handbook of Public Policy Evaluation” by Stuart S. Nagel, buku ini mempunyai fokus bahasan yang melihat pada perspektif alternatif tentang evaluasi kebijakan publik dengan berbagai desain ataupun komponen utama sebagai inti dari bahasan konsepnya. Beberapa hal yang dapat kita perhatikan mengenai evaluasi kebijakan publik, yaitu:

1.       Banyak wawasan dan perspektif alternatif tentang evaluasi kebijakan yang sistematis disajikan.

2.        Banyak ide dan aplikasi yang berhubungan dengan evaluasi kebijakan win-win yang dibahas.

3.       Ada penekanan pada evaluasi kebijakan publik yang berhubungan dengan masalah ekonomi, teknologi, sosial, politik, internasional, dan hukum daripada mengevaluasi program yang terfokus secara sempit. Misalnya, evaluasi kebijakan berkaitan dengan bagaimana menangani masalah kokain-heroin, berbeda dengan evaluasi program, yang mungkin berkaitan dengan rumah singgah tertentu di kota tertentu.

4.       Penekanannya adalah pada evaluasi, berbeda dengan ilmu politik tradisional, yang lebih menekankan bagaimana kebijakan dikembangkan dan terkadang bagaimana implementasinya daripada mengevaluasi kebijakan alternatif untuk mencapai tujuan

5.       Adanya kepedulian terhadap profesionalisme yang berkaitan dengan pengajaran, penelitian, publikasi, kesempatan kerja, asosiasi, dan literatur kunci dalam profesi evaluasi kebijakan publik.

6.       Berbagai aplikasi sebagai kontras dengan satu atau hanya beberapa studi kasus besar disajikan.

Analisis kebijakan yang saling menguntungkan dalam konteks ini dapat didefinisikan sebagai pemecahan masalah kebijakan dengan menemukan solusi yang melebihi harapan awal terbaik dari kaum konsevatif, liberal, republik, demokrat, kelompok besar lainnya, atau siapapun yang memiliki sudut pandang utama dalam perselisihan kebiajakan. Win-win juga disebut  “superoptimalisasi” atau melakukan yang lebih baik dari yang terbaik dari sebelumnya dari semua kelompok besar.

Lalu, yang terakhir pada buku internasional ketiga yang mempunyai judul Improving Public Services: International Experiences in Using Evaluation Tools to Measure Program Performance” by Douglas J. Besharov, Karen J. Baehler, dan Jacob Alex Klerman. Seperti yang tertera pada judul buku ini, berbeda dengan buku internasional sebelumnya, buku ketiga ini mempunyai fokus bahasan dengan melihat perkembangan pelayanan publik dari pengalaman internasional yang menggunakan alat-alat evaluasi untuk mengukur kinerja program dimana dengan pengukuran tersebut mempunyai banyak sekali manfaat dalam perwujudan keberhasilan tujuan program yang telah ditentukan, begitu juga dengan kegiatan evaluasi yang merupakan bagian penting dalam proses kebijakan publik. Kunci untuk manajemen kinerja yang efektif adalah indikator kinerja yang dapat digunakan oleh manajer, administrator, dan pembuat kebijakan secara berkelanjutan untuk menilai program. Kemudian, dipersenjatai dengan informasi tentang apa yang tampaknya bekerja dan apa yang tidak, mereka dapat bertindak untuk memperkuat fungsi program. Di masa lalu, “ukuran kerja” seperti itu cenderung berfokus pada operasi atau kegiatan program (jumlah, intensitas, dan biayanya),  yaitu, pada apa yang dilakukan staf, bukan pada apa yang dicapai atau tidak dicapai oleh program. Namun, seperti yang telah menjadi jelas dengan pengalaman, operasi yang berjalan lancar bukanlah jaminan bahwa suatu program mencapai tujuannya. Oleh karena itu, beberapa tahun terakhir telah terlihat upaya yang meningkat untuk mengukur efektivitas program serta operasinya (Callahan dan Kloby 2009; Delorme dan Chatelain 2011; Mousse dan Sontheimer 1996). Publikasi dasar Kantor Akuntabilitas Umum AS tentang pengukuran dan evaluasi kinerja menjelaskan bagaimana manajemen kinerja yang efektif memerlukan informasi yang baik tentang operasi program dan efektivitas program: Pengukuran kinerja adalah pemantauan berkelanjutan dan pelaporan pencapaian program, khususnya kemajuan menuju tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Biasanya dilakukan oleh manajemen program atau lembaga. Ukuran kinerja dapat membahas jenis atau tingkat kegiatan program yang dilakukan (proses), produk dan layanan langsung yang diberikan oleh suatu program (keluaran), atau hasil dari produk dan layanan tersebut (hasil). (Kantor Akuntabilitas Pemerintah AS 2011).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

CRITIZE

 

 

                Pada bab ini reviewer akan memberikan pandangan terhadap ketiga buku internasional yang sedang dibahas. Ketiga buku internasional yang sedang dibahas mempunyai bahasan dan tema yang menarik untuk pembaca yang ingin mempelajari berbagai konsep yang ada pada evaluasi kebijakan publik. Pada buku pertama yang mempunyai judul Handbook of Practical Program Evalution: Third Edition” by Joseph S. Wholey, Harry P. Hatry, dan Kathryn E. Newcomer. Ada satu bahasan yang cukup menarik dimana dalam buku internasional pertama ini melihat bagaimana mencocokkan pendekatan evaluasi dengan kebutuhan informasi. Seperti yang kita ketahui bahwa keterbukaan akan informasi menjadi salah satu hal yang juga mempunyai posisi penting dalam proses kebijakan publik terutama dalam hal evaluasi. Informasi akan evaluasi berguna bagi pemangku kepentingan termasuk di dalamnnya masyarakat dalam memberikan umpan balik yang sangat berguna untuk perwujudan keberhasilan suatu kebijakan. Program adalah satu set sumber daya dan kegiatan diarahkan ke satu atau lebih tujuan bersama, biasanya di bawah arahan satu manajer atau tim manajemen . Sebuah program dapat terdiri dari serangkaian kegiatan terbatas dalam satu lembaga atau serangkaian kegiatan kompleks yang dilaksanakan di banyak lokasi oleh dua atau lebih tingkat  pemerintahan dan oleh serangkaian penyedia publik, nirlaba, dan bahkan swasta.  Evaluasi program adalah penerapan metode sistematis untuk menjawab pertanyaan tentang operasi dan hasil program. Ini mungkin termasuk pemantauan dari program serta satu- studi tembakan dari proses program atau dampak program. Pendekatan yang digunakan didasarkan pada metodologi penelitian ilmu sosial dan standar profesional . Bidang evaluasi program menyediakan proses dan alat yang dapat diterapkan oleh semua jenis badan untuk memperoleh data yang valid, andal, dan kredibel untuk menjawab berbagai pertanyaan tentang kinerja program publik dan nonprofit. Evaluasi program disajikan di sini sebagai strategi pembelajaran yang berharga untuk meningkatkan pengetahuan tentang logika yang mendasari program dan kegiatan program yang sedang berjalan serta tentang hasil program. Kami menggunakan istilah evaluasi program praktis karena sebagian besar prosedur yang disajikan di sini dimaksudkan untuk penerapan dengan biaya yang wajar dan tanpa keterlibatan ekstensif ahli dari luar. Kami percaya bahwa kendala sumber daya tidak harus mengesampingkan evaluasi. Kecerdasan dan pemanfaatan keahlian dapat dan harus digunakan untuk menghasilkan informasi evaluasi yang berguna, tetapi tidak terlalu mahal. Pengetahuan tentang bagaimana trade-off dalam pilihan metodologis mempengaruhi apa yang kita pelajari sangat penting.

                Berlanjut pada buku kedua yang mempunyai judul “Handbook of Public Policy Evaluation” by Stuart S. Nagel. Dalam buku ini melihat suatu konsep evaluasi yang menarik dimana analisis kebijakan yang saling menguntungkan dalam konteks sebagai pemecahan masalah kebijakan dengan menemukan solusi yang melebihi harapan awal terbaik dari berbagai kelompok besar yang pada dasarnya ada lima langkah untuk analisis kebijakan yang saling menguntungkan:

1.       Apa tujuan utama kaum konservatif, liberal, atau kelompok besar lainnya yang memperdebatkan kebijakan mana yang harus diambil untuk masalah kebijakan tertentu?

2.       Apa alternatif utama dari kelompokkelompok ini untuk menangani masalah kebijakan?

3.       Apa hubungan antara setiap alternatif utama dan setiap tujuan utama? Dalam bentuknya yang paling sederhana, hubungan-hubungan ini dapat dinyatakan dalam bentuk tanda minus (hubungan yang relatif merugikan), tanda plus (hubungan yang relatif kondusif), dan angka nol (hubungan yang tidak merugikan maupun tidak kondusif).

4.       Alternatif baru apa yang mungkin dapat dilakukan? sebuah. Mencapai tujuan konservatif bahkan lebih baik daripada alternatif konservatif; dan secara bersamaan mencapai tujuan liberal bahkan lebih baik daripada alternatif liberal? Apapun alternatif baru yang memenuhi dua kriteria ini adalah alternatif win-win atau solusi superoptimal.

5.       Apakah alternatif win-win yang diusulkan mampu mengatasi rintangan yang sering ada? Rintanganrintangan ini mungkin politik, administrasi, teknologi, hukum, psikologis, dan ekonomi. Solusi menang-menang juga harus mempertimbangkan bagaimana membantu pekerja dan perusahaan yang mungkin terpengaruh oleh pengurangan ukuran karena peningkatan produktivitas, perdagangan bebas, konversi pertahanan, imigrasi, perlakuan pantas, pemanfaatan tenaga kerja, kreativitas, dan faktor terkait.

Buku internasional kedua ini lebih memfokuskan bahasan mengenai bagaimana konsep-konsep atau komponen-komponen terkait dengan evaluasi kebijakan publik dengan berbagai contoh kasus program maupun kebijakan yang disajikan sebagai langkah penguatan pemahaman pembaca mengenai konsep yang dijelaskan.

Terakhir, pada buku internasional yang ketiga dengan judul Improving Public Services: International Experiences in Using Evaluation Tools to Measure Program Performance” by Douglas J. Besharov, Karen J. Baehler, dan Jacob Alex Klerman. Buku ini mempunyai pembahasan yang menarik dimana memperlihatkan bahasan evaluasi dari sudut pandang pengukuran kinerja program, dimana berbagai pembahasan yang ada merupakan sebuah bentuk pengalaman internasional dalam pengembangan pelayanan publik dengan menggunakan alat-alat evaluasi sebagai pengukurannya.  Inkonsistensi dalam pengumpulan data, insentif untuk ketidakjujuran, dan yang lebih mendasar, ketidakpastian tentang faktor apa yang harus diukur di tempat pertama sering mengikis kegunaan ukuran kinerja. Khususnya ketika mengevaluasi layanan manusia, dapat menjadi tantangan untuk menentukan elemen pemberian layanan yang harus diukur, dan bahkan kemudian, beberapa elemen yang mungkin diinginkan untuk diukur secara teori mungkin subjektif dalam kenyataan, seperti "kesejahteraan klien". Tantangan seperti itu muncul di dunia pengukuran kinerja dan evaluasi program. Namun terlepas dari tujuan bersama dan tantangan yang tumpang tindih, kedua bidang tersebut telah berkembang di sepanjang jalur yang sebagian besar terpisah, meskipun paralel, selama beberapa dekade terakhir. Sementara evaluator berfokus pada peningkatan kecanggihan metodologis dari studi hasil dan dampak mereka, para ahli pengukuran kinerja menyempurnakan ukuran keluaran dan mencoba mengintegrasikannya dengan protokol manajemen garis depan. Dan meskipun evaluator cenderung mengidentifikasi lebih kuat dengan kebijakan publik dan ekonomi sebagai disiplin dasar, pengukuran kinerja sering terletak di dalam administrasi publik. Perbedaan-perbedaan itu memperburuk ketegangan antara ketelitian dan relevansi, pembelajaran dan akuntabilitas, dan pengetahuan ilmiah dan bermanfaat, yang menghambat upaya-upaya untuk meningkatkan pemerintahan melalui ilmu sosial (Argyris 1999). Dalam banyak situasi, sistem pengukuran kinerja melacak aktivitas dan keluaran program; lebih jarang mereka mengukur hasil, dan, jika demikian, jarang dengan kontrafaktual. Bahkan publik yang paling sistematis dan koheren secara intelektual reformasi sektor dalam dua generasi terakhir (Selandia Baru adalah anggota yang paling menonjol dari kelompok yang sangat kecil ini) belum berhasil menciptakan sistem manajemen berbasis hasil yang memenuhi standar validitas kausal yang ketat sambil menjadi bantuan praktis bagi para administrator.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

SYHNTESIZE

 

 

                Di bab 4 ini, kita akan membahas mengenai perbandingan dari ketiaga buku intenrasional yang dibahas. Ketiga buku internasional mempunyai bahasan yang menarik dan sangat perlu untuk dipelajari dalam bahasan studi evaluasi kebijakan publik. Buku internasional pertama yang mempunyai judul Handbook of Practical Program Evalution: Third Edition” by Joseph S. Wholey, Harry P. Hatry, dan Kathryn E. Newcomer, mempunyai bahasan yang bisa dibilang sedikit berbeda dari kedua buku lainnya. Dimana bahasan menjelaskan bagaimana mencocokkan pendekatan evaluasi dengan kebutuhan informasi, mengidentifikasi elemen kontekstual kunci yang membentuk penggunaan evaluasi, menghasilkan ketelitian metodologis yang diperlukan untuk mendukung temuan yang kredibel, dan merancang evaluasi yang responsif dan berguna, menjelaskan cara mengidentifikasi dan melibatkan pengguna yang dituju dan pemangku kepentingan evaluasi utama lainnya dan bagaimana bekerja dengan pemangku kepentingan untuk membantu menentukan misi dan tujuan evaluasi. Mereka menyoroti perlunya fleksibilitas dan kemampuan beradaptasi dalam menanggapi situasi evaluasi yang berubah dengan cepat. Membahas model logika , yang menyediakan alat yang berguna untuk perencanaan, desain program, dan manajemen program; mengkomunikasikan tempat program dalam organisasi atau konteks yang lebih besar; merancang sistem pemantauan kinerja dan studi evaluasi; dan membingkai laporan evaluasi sehingga temuan evaluasi menceritakanprogram  kisah kinerja . Mereka menjelaskan bagaimana membangun dan memverifikasi model logika untuk program baru atau yang sudah ada. Mereka juga menyajikan contoh model logika dasar dan kompleks dan mengidentifikasi sumber daya dan alat yang dapat digunakan evaluator untuk mempelajari dan membangun model logika. Menjelaskan penilaian evaluabilitas, evaluasi umpan balik cepat, sintesis evaluasi, dan studi sampel kecil, yang masing-masing menghasilkan temuan evaluasi dan membantu memfokuskan pekerjaan evaluasi di masa depan.  Penilaian evaluabilitas menilai sejauh mana program siap untuk evaluasi yang berguna dan membantu pemangku kepentingan utama mencapai kesepakatan tentang kriteria evaluasi dan tujuan penggunaan informasi evaluasi. Evaluasi umpan balik cepat adalah perluasan dari penilaian evaluabilitas yang menghasilkan perkiraan efektivitas program, indikasi kisaran ketidakpastian dalam perkiraan tersebut, desain yang diuji untuk evaluasi yang lebih definitif, dan klarifikasi lebih lanjut tentang tujuan penggunaan informasi evaluasi. Sintesis evaluasi merangkum apa yang diketahui tentang efektivitas program berdasarkan semua penelitian dan studi evaluasi yang relevan. Studi sampel kecil menguji ukuran kinerja yang akan digunakan dalam pekerjaan evaluasi dan menghasilkan temuan evaluasi dalam kaitannya dengan ukuran tersebut. Wholey memberikan perkiraan biaya masing-masing dari empat pendekatan evaluasi eksplorasi ini dan menunjukkan kapan satu atau yang lain dari pendekatan ini mungkin tepat. 

                Kemudian, pada buku kedua yang mempunyai judul “Handbook of Public Policy Evaluation” by Stuart S. Nagel. Membahas berbagai konsep dengan temuan inovatif dalam memecahkan masalah dimana konsep-konsep tersebut cukup jarang dibicarakan dalam kajian studi evaluasi kebijakan publik seperti konsep analisis kebijakan yang saling menguntungkan sebagai pemecahan masalah kebijakan. Bukan hanya itu, bahasan juga ditunjukkan dengan berbagai contoh  kasus sebagai bentuk peningkatan pemahaman, namun dibandingkan dengan buku internaisonal lain yang sedang dibahas, buku kedua ini mempunyai bahasa yang cukup sulit dipahami.  Untuk memfasilitasi pengembangan alternatif win-win, ada baiknya memiliki sikap positif yang dapat dilakukan bahwa hal itu memungkinkan untuk dilakukan. Ini juga membantu untuk memiliki daftar jenis alternatif menang-menang yang telah berhasil di masa lalu. Sebagai contoh, analisis win-win dapat diterapkan untuk menangani fakultas pembangkang:

1.       Situasi kalah-kalah adalah situasi dimana departemen atau universitas berusahan menghancurkan anggota fakultas yang membangkang. Universitas mungkin menderita stigma yang diperintahkan karena melanggar kebebasan berbicara dan proses hukum. Anggota fakultas kehilangan uang dan mendapatkan perintah dan penegakkan berikutnya.

2.       Situasi menang-kalah adalah situasi dimana satu pihak percaya bahwa itu bisa menjadi pemenang dan pihak lain menjadi pecundang. Mencoba menciptakan situasi ini seringkali menghasilkan situasi kala-kalah seperti litigasi, pemogokan, dan perang.

3.       Situasi win-win adalah situasi dimana universitas dapat mencoba konstruktid mendorong kreativitas potensi fakultas. Melakukan hal itu dapat menghasilkan ide, peneuan, dan institusi baru yang dipuji baik oleh universitas maupun anggota fakultas yang membangkang. Hal ini lebih mungkin terjadi dengan administrator yang memiliki kepribadian demokratis yang fleksibel daripada kepribadian otoriter. Namun, semua administrator mendapat manfaat dari pendanaan, prestise, dan siswa berkualitas yang menghadiri universitas yang berada di garis depat ide-ide baru, penemuan, dalam pengaturan kelembagaan.

Terakhir, pada buku internasional ketiga yang mempunyai judul “Improving Public Services: International Experiences in Using Evaluation Tools to Measure Program Performance” by Douglas J. Besharov, Karen J. Baehler, dan Jacob Alex Klerman. Dibandingkan kedua buku sebelumnya yang mempunyai bahasan konsep dan teori secara mendasar, dalam buku ketiga ini bahasan difokuskan pada praktikal evaluasi yang teoritis dan argumentatif, Dimana kita dapat melihat alat-alat evaluasi digunakan dalam mengukur kinerja program sebagai hal untuk pengembangan pelayanan evaluasi.  Volume ini berusaha membantu menjembatani kesenjangan antara pengukuran kinerja dan evaluasi program. Ia melakukannya dengan menyoroti kemajuan terbaru dalam penggunaan ukuran kinerja kuantitatif di seluruh dunia, banyak di antaranya dibangun di atas teknik evaluasi program. Studi yang dikumpulkan di sini menunjukkan bahwa beberapa kemajuan telah dibuat dalam memperkecil kesenjangan antara pengukuran kinerja dan evaluasi program pada tingkat program tertentu dan inisiatif terfokus untuk meningkatkan efektivitas. Selain itu, pengamatan ini tampaknya berlaku meskipun ada perbedaan norma budaya, gaya pemerintahan, faktor sejarah, dan berbagai nuansa yang membuat masing-masing negara unik. Di seluruh wilayah dan negara, ada gerakan yang berkembang untuk mendokumentasikan, mengukur, dan melacak program yang menyediakan layanan manusia, menggunakan kombinasi metode yang diambil dari berbagai bidang. Yang paling mencolok adalah kesamaan dalam masalah yang dihadapi oleh manajer publik di seluruh dunia dan pendekatan paralel yang banyak diambil sebagai tanggapan. Meskipun berasal dari budaya dan situasi politik yang berbeda, penulis dalam volume ini berbagi banyak poin kesepakatan bahkan ketika mereka menggambarkan pendekatan mereka yang bervariasi terhadap penerapan teknik pengukuran kinerja dalam pengaturan program dan nasional yang berbeda. Satu tema menonjol: perlunya pengukuran kinerja untuk lebih memanfaatkan alat evaluasi program. Beberapa bab secara langsung mengeksplorasi keterkaitan antara evaluasi program dan pengukuran kinerja; Mereka membuat argumen dua bagian. Pertama, sistem pengukuran kinerja, selain memantau operasi program (“kegiatan” dan “keluaran”), juga harus mengukur efek yang dicapai; yaitu, mereka harus mengukur program yang sebenarnya efek pada individu atau organisasi, yang, pada gilirannya, membutuhkan perbandingan antara mereka yang tunduk pada program dan yang tidak—dalam terminologi evaluasi, "kontrafaktual." Hal ini membutuhkan penggunaan teknik evaluasi yang dapat mengidentifikasi kontrafaktual. Eksperimen acak harus menjadi pendekatan pertama yang dipertimbangkan untuk mengukur efek—kecuali pertimbangan etis, praktis, atau terprogram menunjukkan sebaliknya. Kedua, mereka berpendapat bahwa evaluasi dampak biasanya memakan waktu terlalu lama untuk diselesaikan agar berguna bagi manajer program—yang membutuhkan umpan balik yang tepat waktu dan berkelanjutan tentang dampak program untuk membuat penyesuaian operasional. Dengan demikian, dalam menilai efektivitas program, harus ada pergeseran dari hanya mengukur dampak program jangka panjang (didefinisikan sebagai “konsekuensi [umumnya] jangka panjang dari perubahan yang dibuat program terhadap mereka yang tunduk pada aspek masa depan tertentu di masa depan. prospek [kesejahteraan] individu, kelompok, lembaga, atau masyarakat yang menjadi sasaran intervensi")—dan menuju penekanan yang lebih besar pada pengukuran hasil program jangka pendek (didefinisikan sebagai "perubahan langsung dan biasanya lebih cepat, yang mungkin dibuat oleh suatu program individu, kelompok, atau lembaga atau unit analisis lain yang tunduk padanya [dibandingkan dengan yang tidak]”).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB V

SUMMARIZE

 

 

                Pada bab ini, reviewer akan memberikan ringkasan dari ketiga buku internasional yang sudah dibahas.

Ringkasan Buku Internasional 1

Judul: Handbook of Practical Program Evalution: Third Edition oleh Joseph S. Wholey, Harry P. Hatry, dan Kathryn E. Newcomer

Desain evaluasi melibatkan penyeimbangan biaya evaluasi dengan kemungkinan kegunaan hasil evaluasi. Secara umum, semakin tinggi tingkat presisi, kehandalan, dan generalisasi evaluasi, semakin tinggi biaya evaluasi dari segi waktu (waktu kalender dan waktu manajer, staf, klien, dan lain-lain dipengaruhi oleh proses evaluasi); biaya keuangan; dan biaya politik dan birokrasi seperti gangguan yang dirasakan dan hilangnya niat baik di antara mereka yang terkena dampak. Nilai suatu evaluasi diukur dari kekuatan bukti yang dihasilkan; dalam kredibilitas evaluasi untuk pembuat kebijakan, manajer, dan pengguna lain yang dituju; dan khususnya dalam penggunaan informasi evaluasi untuk memperbaiki kebijakan dan program. Menyesuaikan keputusan desain dengan waktu dan sumber daya yang tersedia adalah seni, yang didukung oleh ilmu-ilmu sosial.  Sumber daya untuk evaluasi dan pemantauan biasanya dibatasi. Oleh karena itu, prioritas di antara evaluasi harus mencerminkan kebutuhan informasi yang paling mendesak dari para pembuat keputusan. Mungkin ada banyak tuntutan untuk informasi tentang kinerja program. Tidak semua ini mungkin dapat dipenuhi dengan biaya yang wajar. Kriteria apa yang dapat memandu pilihan? Lima pertanyaan dasar harus ditanyakan ketika ada program yang sedang dipertimbangkan untuk evaluasi atau pemantauan: 

1.       Dapatkah hasil evaluasi mempengaruhi keputusan tentang program?

2.       Dapatkah evaluasi dilakukan tepat waktu agar bermanfaat? 

3.       Apakah program tersebut cukup signifikan untuk mendapatkan evaluasi? 

4.       Apakah kinerja program dipandang bermasalah?  

5.       Dimana program dalam perkembangannya? 

Salah satu semboyan dari profesi evaluasi telah utilisasi – berfokus mengevaluasi (lihat Patton, 2008). Evaluasi yang berfokus pada pemanfaatan dirancang untuk menjawab pertanyaan spesifik yang diajukan oleh penanggung jawab suatu program sehingga informasi yang diberikan oleh jawaban tersebut dapat mempengaruhi keputusan tentang masa depan program. Tes ini adalah kriteria pertama untuk evaluasi. Program yang keputusannya harus dibuat tentang kelanjutan, modifikasi, atau penghentian adalah kandidat yang baik untuk evaluasi, setidaknya dalam hal kriteria pertama ini. Program-program yang memiliki dukungan politik yang cukup besar kemungkinannya kecil untuk menjadi kandidat di bawah kriteria ini. Waktu penting dalam evaluasi. Jika evaluasi tidak dapat diselesaikan tepat waktu untuk mempengaruhi keputusan yang akan dibuat tentang program (kriteria kedua), evaluasi tidak akan berguna. Beberapa pertanyaan tentang suatu program mungkin tidak dapat dijawab pada saat dibutuhkan karena data saat ini tidak tersedia dan tidak dapat dikumpulkan tepat waktu.

 

Ringkasan Buku Internasional 2

Judul: Handbook of Public Policy Evaluation oleh Stuart S. Nagel

Evaluasi kebijakan publik melibatkan penentuan di antara cara-cara alternatif untuk menyelesaikan kontroversi  mengenai apa yang harus dilakukan untuk menangani masalah ekonomi, teknologi, sosial, politik, internasional, dan hukum di tingkat sosial. Evaluasi sistematis melibatkan pemrosesan:

a.       Tujuan yang akan dicapai

b.       Alternatif yang tersedia untuk mencapainya

c.       Hubungan antara tujuan dan alternatif untuk memutuskan alternatif terbaik, kombinasi terbaik dari alternatif, atau alternatif yang terbaik. alokasi terbaik di antara alternatif.

Evaluasi menang-menang melibatkan pemilihan alternatif kebijakan yang dapat memungkinkan konservatif, liberal, dan kelompok besar lainnya untuk secara bersamaan mencapai hasil yang lebih baik daripada harapan awal terbaik mereka. Dalam buku ini membagi menjadi tiga komponen utama, yaitu:

1.       Komponen pertama adalah gagasan dasar, yang meliputi (a) metode win-win, (b) win-win example, (c) bidang kajian kebijakan publik, (d) profesionalisme kebijakan, dan (e) perspektif pembuat kebijakan.

2.       Komponen kedua adalah gagasan mutakhir, meliputi (a) konsep dasar, (b) metode dan profesionalisme, (c) tren evaluasi kebijakan, (d) substansi evaluasi kebijakan, (e) teori win-win, dan (f) winwin aplikasi.

3.       Komponen ketiga terdiri dari bibliografi evaluasi kebijakan yang sangat berguna untuk tujuan referensi. Ini mencakup (a) evaluasi kebijakan secara umum; (b) bukubuku yang diterbitkan oleh Organisasi atau Studi Kebijakan; (c) buku-buku yang berhubungan dengan alternatif penyelesaian sengketa dan solusi super optimal; (d) profesionalisme dalam evaluasi kebijakan; (e) kebijakan publik dan disiplin lainnya; dan (f) referensi terkait daerah berkembang, teori kebijakan, dan kebijakan hukum.         

 

 

Ringkasan Buku Internasional 3

Judul: Improving Public Services: International Experiences in Using Evaluation Tools to Measure Program Performance oleh Douglas J. Besharov, Karen J. Baehler, dan Jacob Alex Klerman

                Beberapa program pemerintah mungkin “berhasil” seperti yang diklaim oleh para pendukungnya. Tetapi banyak yang lain tidak, dan beberapa tampaknya tidak dapat mencapai tujuan yang paling dasar mereka (Baron 2009; Giloth dan Austin 2010; Prewitt, Schwandt, dan Straf 2012, 2).  Sebuah program mungkin tidak efektif karena tidak dipahami dengan baik dan oleh karena itu perlu diorientasikan ulang (atau bahkan dihentikan) tetapi kesalahannya juga dapat berupa implementasi yang tidak memadai, termasuk sumber daya yang tidak mencukupi, pegawai yang tidak sesuai, atau manajemen yang lemah.  Salah satu pilihan, tentu saja, adalah untuk menghentikan program yang tampaknya tidak berhasil, dan memulai dari awal. Namun, melakukan hal itu biasanya sulit secara politis. Di masa lalu, “ukuran kerja” seperti itu cenderung berfokus pada operasi atau kegiatan program (jumlah, intensitas, dan biayanya),  yaitu, pada apa yang dilakukan staf, bukan pada apa yang dicapai atau tidak dicapai oleh program. Namun, seperti yang telah menjadi jelas dengan pengalaman, operasi yang berjalan lancar bukanlah jaminan bahwa suatu program mencapai tujuannya. Oleh karena itu, beberapa tahun terakhir telah terlihat upaya yang meningkat untuk mengukur efektivitas program serta operasinya (Callahan dan Kloby 2009; Delorme dan Chatelain 2011; Mousse dan Sontheimer 1996). Publikasi dasar Kantor Akuntabilitas Umum AS tentang pengukuran dan evaluasi kinerja menjelaskan bagaimana manajemen kinerja yang efektif memerlukan informasi yang baik tentang operasi program dan efektivitas program: Pengukuran kinerja adalah pemantauan berkelanjutan dan pelaporan pencapaian program, khususnya kemajuan menuju tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Biasanya dilakukan oleh manajemen program atau lembaga. Ukuran kinerja dapat membahas jenis atau tingkat kegiatan program yang dilakukan (proses), produk dan layanan langsung yang diberikan oleh suatu program (keluaran), atau hasil dari produk dan layanan tersebut (hasil).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Besharov, Douglas J., Karen J, Baehler., Jacob Alex Klerman. 2017. Improving Public Services: International Experiences in Using Evaluation Tools to Measure Program Performance. Oxford University Press.

Nagel, Stuart S. 2002. Handbook Public Policy Evaluation. Sage Publication, Inc.

Wholey, Joseph S., Harry P. Hatry., Kathryn E. Newcomer. 2010. Hanbook of Practical Program Evaluation: Third Edition. San Francisco: Jossey-Bass. 

Komentar